Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Wednesday, January 18, 2012

Puisi: Yang Mahal Harga



Hari ini, satu lagi puisi. Sorilah. Sempat puisi dulu. Puisi khas, dedikasi untuk yang bernama muslimah.
^_^

Puisi Yang Mahal Harga

Tika bunga telah hampir kehilangan warna,
Yang tinggal bertahan hanya satu dua,
Walau diasak terus oleh dunia,
Tetap yang tinggal itu terus menjaga dirinya.

Tika bunga lain telah dipatahkan,
Rupanya masih ada yang berdiri dan bertahan,
Kagum aku melihat kekuatan di sebalik kelembutan,
Peribadi Aisyah yang terus ada tidak ditelan zaman.

Tika bunga telah kehilangan serinya,
Masih ada sekumpulan yang menjaga dirinya,
Siapalah yang mampu bertahan dengan godaan,
Kalau hidup tidak bertongkatkan iman?

Mereka bunga bukan sebarang bunga,
Bunga-bunga syurga,
Ada, membahagiakan dunia,
Tiada, terasa hilangnya,
Kerana mereka adalah yang mahal harganya,
Menjaga peribadinya di celah ramai yang sudah dibaham pemangsanya.

~[170112]~
Afdholul Rahman CA
Irbid
Puisi Yang Mahal Harganya
Dedikasi Untuk Yang Bernama Muslimah
2305 (Jordan)

Saturday, January 14, 2012

Puisi : Letih Dengan Dunia




Hari ni, saya masukkan semula sebahagian koleksi puisi saya. Moga bermanfaat !
~  ^_^  ~

Puisi Letih Dengan Dunia


Terasa ingin menjerit,
Memberitahu pada semua,
Betapa aku sudah terlalu perit,
Hidup dalam muslihat dunia.

Terasa ingin melaung sekuatnya,
Biar dunia tahu apa yang ku rasa,
Betapa aku ingin keluar dari kesempitan yang melanda,
Agar bisa ku kecapi tenang di jiwa.

Terasa ingin memberitahu semua,
Betapa letih sudah aku dengan dunia,
Tetapi ku tahu cukuplah dengan ada Dia,
Untuk aku kongsi segala.

Ingin ku cerita pada semua,
Bahawa aku telah hampir berputus asa,
Betapa kesibukan dunia telah memerangkap jiwa,
Tetapi di sebalik semua,
Masih ada ketenangan yang ku dapatkan dari Dia,
Untuk aku terus bangun dari kecewa.

~[130112]~
Irbid
Puisi Letih Dengan Dunia
2205 (Jordan)

Friday, September 23, 2011

Puisi : Masih Tersenyumkah Hati?




Aku menoleh pada diri,
Merenung hari-hari yang dilalui,
Melihat betapa hati ini kian suram,
Hidup selesa di jurang dalam,
Tetapi dipertahankan penuh keyakinan,
Sedang diri tahu tidak berada di landasan.

Aku menoleh ke arah hati,
Bila senyuman tidak semanis dulu lagi,
Yang tampak jelas hanyalah kesuraman,
Kerna hidup jauh daripada iman,
Senyuman hati dulu sekadar sebuah dongeng,
Lagenda iman yang tidak mungkin berulang.

Aku menoleh sekali lagi,
Apa mungkin diri terus seperti ini,
Seronok meniti hari-hari kegelapan,
Sedang  hati menangis penuh kegundahan,
Kerna semakin jauh daripada Pemiliknya,
Maka, masihkah ada ruang tersenyum bahagia?

~230911~
Bayt Bujang Beriman, Irbid
Sajak Masih Tersenyumkah Hati?
11.03 malam (Jordan) @ 4.03 pagi (Malaysia)
[Afdholul Rahman CA]

Saturday, September 10, 2011

Puisi : Terbang



Alhamdulillah, Allah telah mengizinkan saya untuk sampai ke bumi Jordan. Sepanjang perjalanan, sempatlah 
mencipta satu sajak. Khas buat semua yang telah bersama saya sepanjang kehidupan ini. 



Teman,
Biar aku terbang,
Membawa cita kehidupan,
Biar nanti ku pulang,
Bumi dan langit mampu kutawan.

Teman,
Terbanglah bersama aku,
Kerna aku lemah bila keseorangan,
Pangkulah hatiku bersamamu,
Agar nanti kupunya teman saat kejatuhan.

Teman,
Terbanglah setingginya,
Namun jangan pernah lupa asal,
Esok lusa bila aku mula alpa,
Jangan pernah biar aku tertinggal.

~100911~
Atas Flight Ke Jordan
1.28 pagi (waktu Malaysia)
Sajak Biar Aku Terbang
[Afdholul Rahman CA]

Saturday, September 3, 2011

Puisi : Tanpa Hati


Kadang-kadang, di tengah perjalanan menuju Allah, tiba-tiba jiwa kita seolah-olah terasa kekeringan. Seolah-olah ibadah yang kita lakukan ini tidak memberi nilai kepada hati. Hati terasa gersang,hingga kadang-kadang, mungkin terasa sudah hilang kenikmatan dan keseronokan dalam beribadah.

Maka, sajak ini sebagai satu luahan hati. Hati yang sudah kehilangan ‘tempat’nya. Moga Allah bantu semula dalam ‘pencarian hati’ itu !

Beribadah tanpa hati ? Tidak mungkin sekali...
~ Picture by fiksi.kompasiana.com

 Ku persembahkan kalungan hatiku,
Demi meraih cinta agung yang satu,
Hari ini hatiku di sini bersama-Mu,
Entah esok mungkin alpa dihanyut arus nafsu.
Siapa yang tahu?

Kalbuku ini bukan aku yang punya,
Meski aku berhempas menyemai dan memanjakannya,
Betapa aku tahu ada harganya di sana,
Bila aku tidak lagi mampu menjaganya,
Apakah layak bagiku habuan syurga?

Selalu aku bermonolog sendiri,
Bila  hati kini mula tidak dipunyai,
Diri  tidak lagi tulus menjadi hamba Ilahi,
Ibadah hanya separuh hati,
Lantas aku bertanya pada diri,
Kenapa kegersangan hingga ke tahap ini?
Sedang dulu hebat sekali,
‘Berpesta ibadah’ di pentas Ilahi,

Silih berganti masa naik turun,
Memang itulah fitrah iman,
Tetapi jangan kufur pada masa mundur.
Kelak dirimu padang jarak padang tekukur,
Biar cinta berhenti di titik ketaatan,
Kerna itu sumbu nyalaan di perjuangan.

~ Sajak Tanpa Hati ~
AfdholulRahman CA
:: Penyejuk Jiwa ::
030911
10.45 malam
Rumah Penaga, Pulau Pinang
Hati Yang Kesesatan

Friday, August 5, 2011

Aku Kan Terus Bersamamu


Seperti yang dijanjikan dalam post Tersenyum Puas !, maka saya sajikan satu pusi hati yang saya deklamasikan dalam Majlis Perpisahan dengan semua guru dan pelajar saya.

Puisi ni on the spot, jadi mungkin tak seberapa. 
Tapi, apapun ....

Moga bermanfaat !
Terimalah...

AKU KAN TERUS BERSAMAMU


Cerah hari menyinar jiwa,
Episod hidup seorang manusia,
Roda iman seorang hamba,
Patah tiada berganti sentiasa.

Hari ini,
mungkin aku di sini,
menabur kasih menyemai budi,
menyemai harapan nan tinggi,
pada kesayangan hati.

Hari esok,
kalaupun aku tiada,
jiwaku tetap ada,
bergerak seirama,
mengukir rentak sama,
untuk tetapku bersama.

Biar nanti saat kalian gembira,
Aku bersama meraikannya,
Biar nanti saat kalian duka,
Aku yang dulu menitiskan air mata,
Biar nanti saat kalian bahagia,
Aku tersenyum kejauhan melihatnya,
Biar saat kalian berjaya,
Jiwaku berbunga-bunga.

Kisah semalam takkan ku lupa,
Biarpun ia satu sejarah,
Kisah semalam membuatku jatuh cinta,
Pada kalian,
Pada teman seperjuangan.

Biar ku tinggal kenangan,
Kan ku bawa keazaman,
Sebagai teman kehidupan.
Teruskan langkahan kalian,
Kerna redha Tuhan menanti di depan.

Maaf setulus hati,
Sayangku tinggalkan buah hati,
Akhir kata mengiringi.
"Uhibbukum fillah"
Kasih hingga ke syurga abadi.

Buat semua di sini,
Kalian tetap di hati.


Dewan SeRU Al-Hilal
Sekitar pukul 12.30 tgh hari.
280711
~ Aku Kan Terus Bersamamu ~

Sunday, April 17, 2011

Fajar Impian

~ Masih ada harapan

Apa ada kata mampu ku gambarkan,

Melihat ummat ini dalam kelukaan,

Sukmaku dicengkam rasa kepedihan,

Bila terkenang pada sebuah keagungan,

Yang suatu ketika dulu sarat harapan.


Aku merenung masa,

Bila ada yang tertanya,

Apakah masih berbaki harapan untuk ummat ini?

Bila gemilang sinar matahari kelmarin,

Tenggelam hilang di ufuk dunia,

Melenyapkan sinar suatu keagungan silam.


Hampir aku terbaring keputus asaan,

Melihat semua ini seolah tiada lagi jalan,

Duka nestapa menambah kekecewaan,

Lantas timbul di benak harapan,

Apa ada alasan buatku mencipta 'perhentian',

Di sebuah perjalanan menuju syurga harapan?

Sedang Nabi pun kuat dalam kepayahan.


Kerna motivasi Rabbani itu tegar di hati,

Tidak pantas untuk aku berhenti,

Terusku terinspirasi dengan janji hakiki,

Memacu momentum diri,

 Buat secebis harapan untuk direalisasi,

Kerna ku tahu kesementaraan terbenam sang Matahari,

Esoknya bakal menyingsing fajar impian buat ummat ini.



Coretan jiwa
~ Fajar Impian ~
10.40 malam di Penang
:: Penyejuk Jiwa ::

Saturday, April 16, 2011

Belantara Dunia Itu


Belantara dunia yang kau puja,

Memaut cinta manusia pada indahnya dia,

Lantas tafakur aku seketika,

Di penghujung senja,

Memerhati manusia yang leka dengannya,

Membuat aku sebak dan hiba,

Detik naluriku membisik kata,

 'Manusia sudah lupa.'


Belantara dunia itu juga mengundang derita,

Bila sirna iman di jiwa,

Tertanamlah angan-angan si munafik dan cita-cita sang pendusta,

Berapa ramai sudah tertipu dengan kesementaraannya?

Akhirnya mengundang celaka,

Di penghujung usia.


Belantara dunia yang kau cinta itu,

Indah zahirnya memang sudah tiada terkata,

Ia bermanis-manis kepada pelamarnya,

Tetapi sayangnya,

Membalas kerinduan sang perindunya,

Dengan hadiah 'kecewa' dan 'hina'.


Lantas, membuat aku jadi tertanya,

Mengapa 'rumah busuk' ini jadi buruannya?

Mencintainya dan merinduinya sepenuh jiwa,

Sedang hakikat belantara ini,

Telah banyak rindu dikhianatinya,

Telah banyak cinta dirosakkannya,

Sirna manusia dihinakannya,

Maka, belumkah cukup itu semua?




Coretan Hati
~ Belantara Dunia ~
10.07 di Penang
:: Penyejuk Jiwa ::

Slide Kehidupan

Palestina | Tanah AirKu

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP